Profesiku Memang wartawan. Berhadapan dengan berbagai karakter orang sudah biasa.
Sewaktu masih di koran kriminal, ngepos di Kejaksaan Tinggi Malang.
Begitu ada yang digiring di penjara seMentara, aku sudah stand by buat wawancara.
Mulai pengedar narkoba, maling, pembunuh, rampok, sampai pemerkosa bocah ingusan. Harus kuhadapi.
Tapi jujur saja, aku punya kelemahan yang amat sayang fatal.
Aku bisa nggak bisa ngomong, apalagi sampai nanya-nanya,
kalau berhadapan dengan orang yang kukagumi.
Agak Memalukan sih. Tapi ini kenyataannya.
Sewaktu awal kuliah, aku begitu Mengidolakan
Pak Amien Rais.
Tokoh reformasi itu. Nah, suatu ketika beliau datang ke kampusku tercinta Univesitas Merdeka Malang. Sebagai pengurus majalah kampus.
Aku punya kesempatan emas untuk wawancara beliau secara privacy. Wah, bangga pastinya. Tugas pertama, sudah wawancara Pak Amien.
Chek..chek… List berisi daftar pertanyaan ..siap.
Tape recorder … siap. Notes…siap. Bolpoint ..siap.
Usai Memberi materi di depan Civitas Akademika, beliau digiring ke ruangan khusus untuk interview. Aku ditemani pimredku Dwi Munthaha. Aku duduk persis di sebelahnya.
“Halo, Apa kabar !” sapa Pak Amien ramah.
Sebait kalimat darinya Membuat konsentrasiku bubar.
Aku terpana, ndomblong, kaget, bibirku kayak digandoli rantai kapal laut
yang beratnya ber ton-ton.
List pertanyaan yang kupegang, serasa kabur.
AKU NGGAK BISA MBACA !!!. AKU NGGAK BISA NGOMONG !!!.
Keringat segede kedondong Mengucur deras… yang terlontar dari mulutku hanya
“Baaa…ik!” SUDAH ITU SAJA ! Udah itu aku diem, nggak bisa ngomong. 30 Menit bersama Pak Amien aku cuman mlongo melihat wajahnya, dan terkesima Melihat gaya bicaranya.
(Dia ngomong apa aku nggak ngerti blass… BLANK pokoknya). Yang ada Pimredku yang wawancara. Heheheh…. Benar- benar Memalukan.
Orang berikut yang Membuatku nervous, adalah
mas Imam Brotoseno, sutradara kondang yang juga blogger. Aku nggak pernah kenal secara langsung.
Tapi aku sangat Menggagumi tulisan dan pemikirannya yang kritis, tulisannya yang runtut dan pemahaman sejarah yang menurutku sangat luar biasa.
Yang jelas aku ngak punya nyali kalau ketemu orang ini, bisa-bisa mati berdiri…heheheh !. Hingga satu hari Si Angki, bilang dia lagi chatting sama Mas Imam…
Angki : ho .. Oom Iman OL iki loMe : ha..!!! aduh...*geMeterAngki : add gmail'e waeMe : nggak..aku nggak wani, orang setenar dia, bisa speechless akuAngki : enak lo wong'e chatinganMe : pastilah pengemarnya banyakAngki : eee, nggak lo. Dia itu penggemar beratmu. suwerrrrrrMe : mbujuiiiiiiiiiAngki : nomormu tak wei nang Oom Iman yo??Me : wah.......!!!!*histeris. Ojok Ki.... Mengko aku ra isok ngomongAngki : yo wisMe : aku iki nduwe penyakit aneh. jadi Meski aku ini wartawan sering wawancara, tapi aku punya kelemahan kalau ketemu sama orang yang diidolakan bisa jadi kuthuk tolong sampaikan ke mas iman ya..bukannya aku sombongAngki : aku nawarin biar langsung ngobrol ma situMe : ha??? aduh aku kok udah deg-degkhan.Aduh Angkiiiii. KALAU AKU MATI PIYE ???? Angki : wis wurung.. wurung !!!!--------
Dan tepat di hari ini, 3 Mei. Aku bertemu dengan idolaku.
Cak Kartolo. Jagoan ngidung, parikan dari Surabaya. Ya ampun dia duduk persis di sebelahku.
Pengen rasanya aku Menyapa, beberapa kali Cak Kartolo tersenyum padaku.
Aku malah Melengos…
Duh nyesellllll banget. Maklum aku kadung kelewat nervous…jadi nggak karu-karuan untuk Menutupinya. Tanganku dingin, kaku sulit digerakkan.
Ketika acara sambutan berakhir ..dan semua orang bertepuk tangan.
Cak Kartolo Mencodongkan badannya ke arahku.
“Mbak, kenapa yo..kok disuruh tepuk tangan. Kok nggak disuruh tepuk kaki !”
Wakakakakaka……..
Woiiiiiiiiiii..Cak Kartolo ngomong sama akuuuuuuuuu !!!